Fruz's Journey

Relevansi Stoikisme di Zaman Modern

What's up fellas? It's been a long time since I uploaded a new post :( Been very busy for the last weeks, there are just many things that happened lmao, mostly schools. So, in this post, I'm just gonna post one of my class assignment :DDDD

PS: It's in Bahasa ( ◜‿◝ )♡

Kita sering kali merasa takut daripada terluka; dan kita lebih menderita karena imajinasi daripada kenyataan.” — Seneca

Apakah kalian setuju dengan quotes yang dibawakan oleh Seneca di atas? Bahwasanya manusia kerap kali merasa ketakutan akan sesuatu yang bahkan belum terjadi padanya? Ajaran filsafat Stoikisme akan membantu kalian untuk mengatasi rasa takut itu. Stoikisme, dibawakan oleh Zeno dari Citium, adalah sebuah ajaran filsafat kuno yang sudah diajarkan mulai tahun 304 SM. Stoikisme adalah alat dalam mengejar penguasaan diri, ketekunan, dan kebijaksanaan: sesuatu yang digunakan seseorang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih baik daripada bidang akademik yang cenderung hanya bisa dipahami beberapa orang saja. Banyak orang-orang hebat yang tidak hanya mengenal stoikisme dengan apa adanya, bahkan mereka sudah mengaplikasikannya dalam keseharian mereka: George Washington, Walt Whitman, Frederick the Great, Eugène Delacroix, Adam Smith, Immanuel Kant, Thomas Jefferson, dan banyak lainnya.

Dalam stoikisme, ada empat keutamaan yang sering disinggung para filsufnya. Keutamaan tersebut adalah keberanian, kesederhanaan, keadilan, dan kebijaksanaan. Hal-hal ini adalah pelajaran yang terpenting dalam filsafat stoikisme. Marcus Aurelius pernah menuliskan “ Jika suatu saat dalam hidupmu, kamu menemukan sesuatu yang lebih baik dari keadilan, kejujuran, pengendalian diri, dan keberanian—maka itu pasti adalah sesuatu yang luar biasa.”

Namun, apa hubungannya stoikisme dengan zaman sekarang? Apakah ajaran yang sudah ada sejak beribu tahun yang lalu ini masih bisa dapat kita aplikasikan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita harus perlu tahu dulu apa masalah yang akan kita bahas. Dengan begitu, langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan hanyalah untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut.

Khawatir, atau kata kerennya—Overthinking—sudah pasti hampir dialami oleh semua orang, khususnya siswa yang masih bersekolah/berkuliah. Henry Manampiring, penulis Filosofi Teras, telah melakukan survey tentang rasa khawatir yang sudah diisi oleh 3.634 responden. Di survey ini, ditemukan bahwa responden yang masih bersekolah, separuhnya (53%) merasa khawatir dengan pendidikan mereka. Tiga penyebab kekhawatiran tertinggi adalah tugas yang tidak lancar, hilangnya motivasi belajar, dan nilai jelek. “Biaya” ada di urutan keempat, dipilih oleh seperempat dari mereka yang khawatir mengenai pendidikan mereka. Bagaimana ajaran Stoikisme dapat membantu para siswa/siswi tersebut? Para pembelajar stoikisme mempunyai banyak solusi untuk mengatasi permasalahan ini.

Salah satu ajaran terpenting yang sering dipraktikan dalam filosofi stoikisme adalah dikotomi kendali—yaitu kemampuan untuk membedakan sesuatu yang bisa kita kontrol dan yang tidak. Dalam kasus pelajar, hal ini adalah nilai rapot. Apakah nilai rapot bisa kita kendalikan? Tentu saja tidak. “Terus gimana dong? pasrah aja?” Tentu saja tidak, dikotomi kendali sangat berbeda dengan sikap pasrah, dalam dikotomi kendali, kita dapat memaksimalkan semua hal yangberada dalam kendali kita—kegigihan kita dalam belajar.

Ajaran diatas mungkin susah untuk dipraktikkan pada awalnya, namun kita harus terus melatih diri kita untuk bisa menerima apa yang sudah tidakdirkan. Bagaimana cara melatihnya? salah satunya adalah dengan journaling. Epictetus sang budak, Marcus Aurelius sang pemimpin, dan Seneca sang penguasa. Mereka semua mempunyai satu kebiasaan, yaitu untuk selalu mencatat bagaimana hari mereka berlalu. Dalam stoikisme, journaling bukan hanya sekedar catatan diary. Kita harus mempersiapkan hari, merenungkan apa saja yang sudah terjadi hari ini, dan terus mengingat apa saja yang sudah kita dapatkan dari guru kita, dari bacaan kita, dan dari pengalaman kita. Semua itu tidak bisa hanya kita pelajari sekali saja, sebaliknya, kita harus mengulanginya lagi dan lagi, dan yang paling penting, kita harus menulisnya dalam journal kita agar ilmu yang sudah diperoleh dapat benar-benar berguna bagi kita.

Hal lainnya yang dapat kita praktikkan dalam kehidupaan kita adalah untuk selalu mengendalikan persepsi kita akan sesuatu. Dalam stoikisme, tidak ada yang namanya baik atau buruk. Semuanya hanyalah persepsi kita belaka, dan kita bisa mengontrol persepsi ini. Contohnya adalah saat kita mendapatkan nilai yang jelek saat ulangan, banyak orang pasti langsung mengganggap bahwa dirinya bodoh, bahwa perjuangan yang mereka lakukan hanyalah sia-sia. Namun, itu semua hanyalah persepsi kita, fakta yang ada hanyalah kita mendapatkan nilai jelek. Itu saja. Tidak ada yang bilang bahwa kita bodoh karena mendapatkan nilai tersebut. Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Dalam stoikisme, kita bisa membalikkan keadaan buruk ini menjadi sesuatu yang baik, atau kata banyak orang “semua kejadian pasti ada hikmahnya”. Apa hikmah yang bisa kita dapatkan dari mendapatkan nilai yang jelek? Tentu saja banyak, salah satunya kita jadi belajar bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, dan itu adalah hal yang sangat normal.

Tiga ajaran di atas sudah sangat cukup untuk mengatasi masalah kekhawatiran pelajar, dengan mengaplikasikannya, saya yakin bahwa tingkat pelajar yang khawatir akan menurun drastis. Namun, selalu ingat bahwa stoikisme dirancang untuk selalu dijadikan sebuah latihan dan rutinitas. Stoikisme bukanlah sebuah filosofi yang dapat dimengerti dalam sekali baca. Filosofi ini adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kegigihan dan konsentrasi dalam mempelajarinya.

#life #self-development

- 3 toasts